JAKARTA – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan memperluas manfaat pembangunan. Di tengah ketidakpastian global, stabilitas ekonomi yang terjaga menjadi modal bagi pemerintah untuk melanjutkan berbagai program prioritas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Telisa Aulia Falianty, menilai kinerja makroekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas lima persen, inflasi relatif terkendali, serta tingkat pengangguran dan kemiskinan menunjukkan tren penurunan.
“Secara makro, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan global,” ujar Telisa.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi fondasi penting bagi pemerintah untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif dan inklusif. Kebijakan yang menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat dinilai berperan penting dalam mempertahankan momentum pembangunan nasional.
Sejumlah program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan pembangunan tiga juta rumah, juga memiliki potensi mendorong kegiatan ekonomi. Program-program tersebut dapat memperluas kesempatan usaha, meningkatkan permintaan produk dalam negeri, serta membuka peluang kerja apabila melibatkan UMKM dan pelaku ekonomi lokal secara optimal.
Telisa menegaskan, keberhasilan program perlu ditopang implementasi dan pengawasan yang efektif agar manfaatnya semakin luas. “Keberhasilan program pemerintah seharusnya tidak hanya diukur berdasarkan jumlah penerima manfaat atau besarnya anggaran yang terserap, tetapi juga berdasarkan dampak nyata terhadap masyarakat,” katanya.
Memasuki tahun ketiga, penciptaan lapangan kerja formal, penguatan investasi, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi agenda penting. Program industrialisasi dan hilirisasi diharapkan mampu menghasilkan pekerjaan produktif, sementara pelatihan dan magang dapat membantu generasi muda menyesuaikan kompetensi dengan kebutuhan industri.
Di tengah tantangan geopolitik, perubahan iklim, dan fluktuasi harga energi, penguatan ketahanan pangan dan energi juga diperlukan untuk menjaga stabilitas nasional.
Telisa menilai kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, dan lembaga pengawas menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas kebijakan.
Dengan evaluasi berbasis data dan perbaikan berkelanjutan, fondasi pembangunan selama dua tahun pertama diharapkan dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang semakin berkualitas, kesempatan kerja yang lebih luas, dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat.

