Hari Pahlawan, Mengenang Pengorbanan Pejuang Karhutla Penjaga Kelestarian Lingkungan Bangsa

Oleh: Hanasari Elena Wang *)

Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November mengingatkan bangsa Indonesia pada keberanian rakyat Surabaya mempertahankan kemerdekaan pada 1945. Namun, makna kepahlawanan tidak berhenti pada medan pertempuran. Dalam menghadapi krisis ekologis, keberanian juga hadir melalui petugas yang mempertaruhkan keselamatan untuk menyelamatkan hutan, melindungi masyarakat, dan menjaga keberlanjutan kehidupan.

Peringatan tahun ini mengusung semangat keteladanan dan perjuangan bersama. Nilai tersebut menemukan relevansi ketika kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menuntut pengorbanan manusia. Para pemadam, relawan, prajurit, dan petugas konservasi bekerja menghadapi medan berbahaya, perubahan arah angin, serta ancaman asap yang merugikan kesehatan dan kegiatan ekonomi.

Tragedi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memperlihatkan besarnya risiko pengabdian tersebut. Empat petugas dan relawan meninggal ketika berupaya mengendalikan kebakaran. Mereka adalah Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, Wisnu Yuda Pratama, dan Sefriel Ardiansyah. Perubahan angin yang ekstrem memperbesar kobaran api sekaligus menyulitkan penyelamatan personel di lapangan.

Kehilangan itu tidak dapat dipandang semata sebagai konsekuensi pekerjaan berisiko. Dari perspektif tata kelola lingkungan, setiap korban merupakan pengingat pentingnya standar keselamatan, informasi cuaca yang cepat, jalur evakuasi, perlengkapan pelindung, serta pengambilan keputusan operasional berbasis penilaian risiko. Menghormati pengabdian mereka berarti memperbaiki sistem agar tragedi serupa tidak berulang.

Kepala Badan Kepegawaian Negara, Zudan, menegaskan bahwa pemenuhan hak keluarga korban merupakan tanggung jawab negara. BKN menindaklanjuti hak kepegawaian bagi dua korban berstatus aparatur sipil negara, termasuk kenaikan pangkat anumerta, santunan, dan dukungan pendidikan bagi ahli waris. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penghargaan terhadap pengabdian harus diterjemahkan menjadi perlindungan sosial yang nyata.

Penghormatan juga perlu menjangkau relawan yang sering berada di garis depan tanpa perlindungan kelembagaan setara. Pemerintah daerah, pengelola kawasan konservasi, dan lembaga penanggulangan bencana perlu memastikan jaminan kecelakaan, pelatihan keselamatan, serta dukungan psikososial bagi keluarga. Kepahlawanan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menormalisasi risiko yang sebenarnya dapat dikurangi.

Duka serupa menyelimuti operasi penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah setelah tiga prajurit TNI Angkatan Darat gugur dalam rangkaian tugas pemadaman. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Letjen TNI Kristomei Sianturi, menyampaikan belasungkawa sekaligus mengajak masyarakat mendukung personel yang masih bekerja. Ia menekankan pentingnya menghentikan pembakaran lahan agar upaya petugas tidak terus dihadapkan pada ancaman baru.

Pencegahan adalah kewajiban kolektif. Masyarakat perlu memahami bahwa membuka lahan dengan api dapat menimbulkan dampak yang jauh melampaui lokasi pembakaran. Kabut asap mengganggu pembelajaran, menghambat aktivitas ekonomi, menurunkan kualitas udara, dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kerusakan habitat serta pelepasan emisi juga memperpanjang beban ekologis bagi generasi mendatang.

Pemerintah melalui BNPB terus mengintensifkan pemadaman darat, operasi udara, dan modifikasi cuaca di wilayah rawan. Kristomei menjelaskan bahwa kombinasi berbagai pendekatan diperlukan untuk mempercepat pengendalian titik api. Penanganan tersebut juga diperkuat kemitraan internasional, termasuk dukungan Australia bagi operasi udara di Kalimantan Timur.

Bantuan dari New South Wales Rural Fire Service mencakup pesawat C-130 Hercules untuk pemboman air dan Cessna Citation sebagai pesawat pemandu. Operasi dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari. Duta Besar Australia, Roderick Bruce Brazier, menjelaskan bahwa dukungan tersebut merupakan tindak lanjut asesmen teknis bersama dan mencerminkan tradisi saling membantu antara kedua negara saat menghadapi bencana.

Kerja sama itu penting karena asap, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem tidak mengenal batas administratif. Meski demikian, bantuan internasional harus melengkapi kapasitas nasional, bukan menggantikannya. Indonesia membutuhkan sistem deteksi dini yang konsisten, pemetaan lahan rawan, kesiapan personel, serta pengawasan pembukaan lahan yang lebih kuat sepanjang tahun.

Dalam ilmu lingkungan, pemadaman merupakan respons terhadap gejala, sedangkan pencegahan menyasar penyebab. Pengelolaan gambut, restorasi kawasan terdegradasi, edukasi masyarakat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal dikawal selalu untuk terus berjalan serentak.

Pendekatan ilmiah telah dilakukan atas transparansi data mengenai luas kebakaran, kondisi vegetasi, kualitas udara, dan efektivitas pemadaman. Informasi yang terbuka ini memungkinkan masyarakat memahami risiko sekaligus membantu peneliti mengevaluasi intervensi pemerintah. Penggunaan citra satelit, pengamatan lapangan, dan laporan warga juga telah diintegrasikan agar keputusan operasional tidak bergantung pada informasi yang terpisah.

Pendidikan lingkungan merupakan bagian lain dari penghormatan terhadap para korban. Sekolah, organisasi pemuda, kelompok tani, dan komunitas adat dapat dilibatkan dalam kampanye pencegahan yang berkesinambungan. Kesadaran ekologis tidak lahir dari peringatan seremonial semata, tetapi dari kebiasaan menjaga sumber air, merawat vegetasi, dan melaporkan indikasi kebakaran sebelum berkembang menjadi bencana besar.

Hari Pahlawan kali ini memperluas pengertian tentang keberanian. Para pejuang kemerdekaan mempertahankan tanah air dari penjajahan, sementara penjaga lingkungan masa kini melindungi tanah air dari kehancuran ekologis. Keduanya dipertemukan oleh pengabdian yang menempatkan keselamatan orang banyak di atas kepentingan pribadi.

Menghormati para pahlawan karhutla adalah memastikan pengorbanan mereka melahirkan perubahan yang terukur. Kita semua, elemen terkecil hingga negara bisa memperkuat keselamatan petugas, memenuhi hak keluarga korban, meningkatkan kesiapsiagaan, dan menegakkan pencegahan secara konsisten. Masyarakat kita kelak meneruskan semangat kepahlawanan dengan menjaga hutan, menolak pembakaran, serta mendukung kerja petugas. Dengan solidaritas demikian, Hari Pahlawan menjadi energi bersama untuk mewariskan Indonesia yang lebih aman, hijau, dan tangguh.

*) Pemerhati lingkungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *