Jakarta — Pemerintah terus memperkuat hilirisasi sektor pertanian untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor. Komoditas strategis seperti kedelai, bawang putih, kakao, pakan ternak, dan pupuk menjadi fokus pengembangan guna memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan daya saing, serta mendorong pertumbuhan industri berbasis pertanian.
Hilirisasi dilakukan melalui pengembangan rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari budidaya hingga pengolahan. Pada komoditas kedelai dan bawang putih, pemerintah mendorong peningkatan produksi dalam negeri melalui penggunaan benih unggul, perluasan areal tanam, pemanfaatan teknologi modern, serta penguatan kemitraan dengan industri agar ketergantungan terhadap impor dapat terus ditekan.
Komitmen Kementerian Pertanian dalam memperkuat hilirisasi dan meningkatkan daya saing komoditas perkebunan juga diwujudkan melalui kolaborasi riset dan inovasi. Salah satu hasilnya adalah lahirnya lima varietas unggul baru kakao yang siap dikembangkan secara luas untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao nasional.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan kunci untuk mempercepat transformasi sektor pertanian menuju swasembada pangan yang berkelanjutan sekaligus mendorong hilirisasi komoditas strategis nasional.
“Hasil-hasil penelitian yang telah dihasilkan para peneliti harus segera dihilirisasikan dan dimanfaatkan secara luas agar memberikan dampak nyata bagi petani dan perekonomian nasional.” Kata Mentan Amran.
Selain kakao, pemerintah juga memperkuat industri pakan dan pupuk melalui pemanfaatan bahan baku lokal serta pengembangan pupuk berbasis sumber daya dalam negeri. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan nilai tambah produk pertanian, serta menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Peneliti komoditas kakao, Rubiyo, mengatakan bahwa dalam pertemuan kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan perhatian khusus terhadap inovasi yang dihasilkan para peneliti, khususnya yang mendukung program hilirisasi pertanian.
“Pak Menteri menanyakan apakah ada inovasi teknologi yang dihasilkan dari penelitian yang dahulu berasal dari Kementerian Pertanian. Saya sampaikan bahwa kami telah menghasilkan lima varietas unggul baru kakao yang siap dikembangkan dan dapat memberikan dukungan terhadap program hilirisasi kakao yang saat ini sedang didorong oleh Kementerian Pertanian,” kata Rubiyo.
Pengembangan kakao menjadi bagian penting dari agenda hilirisasi nasional karena Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk olahan seperti cocoa butter, cocoa powder, dan cokelat bernilai tambah dibandingkan hanya mengekspor biji kakao. (*)

